Sabtu, 13 Juli 2013

-->
     

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
NAMA                                  : SIRAYA PUTERA ZEBUA
PRODI/ KELAS                  : BIOLOGI / C
MATA KULIAH                 : PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA
DOSEN PENGAMPU       : VERDINAND M. TELAUMBANUA S.Pd
                               
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
GUNUNGSITOLI
T. A. 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkat dan anugerahnya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “ Kajian Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan Dipandang Dari Pola Kata, Kalimat Dan Bahasa Baku”.
Dalam pembuatan makalah ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan arahan dan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dalam pembuatan makalah ini banyak sekali kelemahan dan kekurangan yang penulis hadapi, baik dari buku panduan, sumber pembahasan, ataupun waktu yang diberikan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini ke depan.
Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih.





Penulis

                                                                                   
      SIRAYA PUTERA ZEBUA
               NIM : 122111113
                                                                                                  

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………2
DAFTAR ISI ………………………………………………………………………..3
BAB I        PENDAHULUAN
-          Latar Belakang …………………………………………………..4
-          Tujuan …………………………………………………………....4
BAB II       PEMBAHASAN
-          Pengertian ………………………………………………………..5
-          Sejarah Ejaan Bahasa Indonesia …………………………………5
-          Ruang Lingkup Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) ……………7
-          Pemakaian huruf …………………………………………………7
-          Pemakaian huruf kapital dan huruf miring ………………………14
-          Penulisan kata ……………………………………………………19
-          Penulisan unsur serapan ………………………………………….25
-          Pemakaian tanda baca …………………………………………....25
-          Bahasa baku dan tidak baku ……………………………………..36
BAB III     PENUTUP
-          Kesimpulan ………………………………………………………40
-          Saran ……………………………………………………………..40
DAFTAR PUSTAKA            ……………………………………………………………….41




BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Ejaan adalah seperangkat aturan atau kaidah pelambang bunyi bahasa, pemisah, penggabungan, dan penulisannnya dalam suatu bahasa. Batasan tersebut menunjukkan pengertian pengertian kata ejaan berbeda dengan kata mengeja. Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata, sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa dengan menggunakan huruf, kata, dan tanda baca sebagai sarananya.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman hidup, terutama dalam bahasa tulis. Keteraturan dalam bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna.
Ejaan yang berlaku sekarang dinamakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). EYD yang resmi mulai diberlakukan pada tanggal 16 agustus 1972 ini memang upaya penyempurnaan ejaan yang sudah dipakai selama dua puluh lima tahun sebelumnya yang dikenal dengan nama Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (Menteri PP dan K Republik Indonesia pada tahun itu diresmikan pada tahun 1947). Sebelum Ejaan Soewandi telah ada ejaan yang merupakan ejaan pertama Bahasa Indonesia yaitu Ejaan Van  Ophuysen (nama seorang guru besar Belanda yang juga pemerhati bahasa) yang diberlakukan pada tahun 1901 oleh pemerintah Belanda yang menjajah Indonesia pada masa itu. Ejaan Van Ophuysen tidak berlaku lagi pada tahun 1947.

B.       Tujuan
1.         Dapat mengetahui pengertian Ejaan Yang Disempurnakan
2.         Dapat memahami fungsi  dari macam-macam tanda baca
3.         Dapat memahami tata cara dan letak dalam penggunaan tanda baca
4.         Dapat membuat sebuah karya tulis dengan tanda baca yang baik dan benar
5.         Dapat memahami dan mengembangkan tulisan dengan tanda baca yang baik dan benar.

BAB II
PEMBAHASAN
A.                PENGERTIAN
Ejaan (Ejaan Yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf kapital dan huruf miring, serta penulisan huruf serapan. EYD disini diartikan sebagai tata bahasa yang disempurnakan. Dalam penulisan karya ilmiah perlu adanya aturan tata bahasa yang menyempurnakan sebuah karya tulis. Karena dalam sebuah karya tulis memerlukan tingkat kesempurnaan yang mendetail, singkatnya EYD digunakan untuk membuat tulisan dengan cara yang baik dan benar.
Mengeja adalah kegiatan melafalkan huruf, suku kata, atau kata, sedangkan ejaan adalah suatu sistem aturan yang jauh lebih luas dari sekedar masalah pelafalan. Ejaan mengatur keseluruhan cara menuliskan bahasa.
Ejaan merupakan kaidah yang harus dipatuhi oleh pemakai bahasa demi keteraturan dan keseragaman bentuk, terutama dalam bahasa tulis.Keteraturan bentuk akan berimplikasi pada ketepatan dan kejelasan makna. Ibarat sedang mengemudi kendaraan, ejaan adalah rambu lalu lintas yang harus dipatuhi oleh setiap pengemudi. Jika para pengemudimematuhi rambu-rambu yang ada, terciptalah lalu lintas yang tertib dan teratur. Seperti itulah kira-kira bentuk hubungan antara pemakai bahasa dengan ejaan.
B.                 SEJARAH EJAAN BAHASA INDONESIA
            Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional lahir pada awal tahun dua puluhan. Namun dari segi ejaan, bahasa indonesia sudah lama memiliki ejaan tersendiri. Berdasarkan sejarah perkembangan ejaan, sudah mengalami perubahan sistem ejaan, yaitu:


1)                Ejaan Van Ophuysen
            Ejaan ini mulai berlaku sejak bahasa Indonesia lahir dalam awal tahun dua puluhan. Ejaan ini merupakan warisan dari bahasa Melayu yang menjadi dasari bahasa Indonesia.
2)                Ejaan Soewandi
Setelah ejaan Van Ophuysen diberlakukan, maka muncul ejaan yang menggantikan, yaitu ejaan Suwandi. Ejaan ini berlaku mulai tahun 1947 sampai tahun 1972.

3)                Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan ini mulai berlaku sejak tahun 1972 sampai sekarang. Ejaan ini merupakan penyempurnaan yang pernah berlaku di Indonesia.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) diterapkan secara resmi mulai tanggal 17 Agustus 1972 dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia  Nomor : 57/1972 tentang peresmian berlakunya “Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan”. Dengan berlakunya EYD, maka ketertiban dan keseragaman dalam penulisan bahasa Indonesia diharapkan dapat  terwujud dengan baik.
PERUBAHAN PEMAKAIAN HURUF
DALAM TIGA EJAAN BAHASA INDONESIA
Ejaan yang Disempurnakan (EYD)
(mulai 16 Agustus 1972)
Ejaan Republik
(Ejaan Soewandi)
1947-1972
Ejaan Ophuysen
(1901-1947)
Khusus
Jumat
Yakni
Chusus
Djum’at
Jakni
Choesoes
Djoem’at
Ja’ni
C.                
C.                 RUANG LINGKUP EJAAN YANG DISEMPURNAKAN (EYD)
Ruang lingkup EYD mencakup lima aspek yaitu
(1) pemakaian huruf,
(2) penulisan huruf,
(3) penulisan kata,
(4) penulisan unsur, dan
 (5) pemakaian tanda baca
          I.         Pemakaian Huruf
A.                Huruf Abjad
Abjad yang digunakan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf yang berikut. Nama setiap huruf disertakan di sebelahnya.
Huruf
Nama
Huruf
Nama
Aa
Bb
Cc
Dd
Ee
Ff
Gg
Hh
Ii
Jj
Kk
Ll
Mm
a
be
ce
de
e
ef
ge
ha
i
je
ka
el
em
Nn
Oo
Pp
Qq
Rr
Ss
Tt
Uu
Vv
Ww
Xx
Yy
Zz
En
o
pe
ki
er
es
te
u
ve
we
eks
ye
zet


B.                   Huruf  Vokal
Huruf yang melambangkan vocal dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf a, i, u, e, dan o.
Huruf
Contoh Pemakaian Dalam Kata
Diawal
Ditengah
Diakhir
a
i
u
e

o
angin
ini
uang
ember
emas
oleh
malam
minum
buang
retak
benang
rotan
Segera
murni
ibu
sore
tipe
radio

Dalam pengajaran lafal kata, dapat digunakan tanda aksen jika ejaan kata menimbulkan keraguan.
Misalnya:
Anak-anak bermain di teras  (teras)
Upacara itu dihadiri pejabat teras pemerintah

C.                Huruf Konsonan
Huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia terdiri atas huruf-huruf b, c, d, f, g, h, j, k, l, m, n, p, q, r, s, t, v, w, x, y, dan z.

Huruf
Konsonan
Contoh Pemakaian dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
B
c
d
f
g
h
j
k
l
m
n
p
q
r
s
t
v
w
x
y
z
bahasa
cinta
derita
fakta
ganjaran
hamparan
janji
kalimat
lembut
malas
normal
pintar
qur’an
rahasia
sahabat
total
variasi
wajah
xenon
yakin
ziarah
sebagai
pacuan
paduka
kafan
pagar
bahaya
gajah
berkat
pelangi
paman
panas
rapat
furqon
barang
basah
batuk
lava
pawai
-
pepaya
razia
arab
-
abad
maaf
balig
marah
mikraj
masak
kesal
malam
iman
rayap
-
pintar
kapas
kuat
-
-
-
-
Juz

D.                 Huruf Diftong
Di dalam bahasa Indonesia terdapat diftong yang dilambangkan dengan ai, au, oi.
Huruf Diftong
Cara Pemakaian Dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
ai
au
oi
air
aura
-
syair
saus
boikot
santai
terhalau
amboi


E.                 Gabungan Huruf Konsonan
Di dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Masing-masing melambangkan satu bunyi konsonan.
Gabungan huruf konsonan: kh, ng, ny, sy.
Gabungan Huruf Konsonan
Contoh Pemakaian Dalam Kata
Di Awal
Di Tengah
Di Akhir
kh
ng
ny
sy
khalis
ngorok
nyaman
syahdu
akhirat
tangan
hanya
isyarat
tawarikh
yang
-
Arasy
                                                                                                               
F.                  Pemenggalan Kata
                                i.            Pemenggalan Kata Jadian (Kata Kompleks)
1.                  Awalan dan akhiran di perlakukan sebagai satuan terpisah.
Misalnya:
ber-a.sas                      pel-a.jar

Perhatikan:
ber-u.ang                     be-ru.ang
meng-u.kur                  me-ngu.kur
2.                  Bentuk gabungan dipenggal lebih dahulu atas satuan-satuannya.
Misalnya:
ba.gai-ma.na                au.di.o-vi.su.al
bi.o-gra.fi                    in.fra-struk.tur
eks.tra-ku.ri.ku.ler       fo.to-gra.fi
                                ii.                Pemenggalan Kata Dasar, Baik Kata Indonesia Maupun Kata Serapan
1.                  Pemenggalan kata yang mengandung huruf-huruf vokal yang berurutan di tengahnya dilakukan diantara kedua huruf vokal itu.
Misalnya:
bu.ah                           ma.in
sa.at                             i.de.al
zo.o.lo.gi                     a.or.ta
2.                  Bagian kata yang terdiri atas satu huruf vokal (termasuk akhiran -i) pemenggalannya dilakukan sebagai berikut.
a.da                             i.ni
me.nu.lis.i                    me.nung.gang.i
3.                       Suku kata yang mengandung gugus vokal au, ai, oi, ae, ei, eu, dan ui, baik dalam kata-kata Indonesia maupun kata-kata serapan, di perlakukan sebagai satu suku.
Misalnya:
au.la                             pu.lau
san.tai                          am.boi

Bandingkan dengan:
ka.in                            la.uk
da.ur                            da.un

Akan tetapi, kata seperti mei, prei, dai, dan sai dipenggal menjadi:
me.i                             pre.i
da.i                              sa.i
4.                  Pemenggalan kata yang mengandung sebuah huruf konsonan dilakukan sebelum huruf konsonan.
Misalnya:
ba.pak                          ka.bar
la.wan                          so.pan
5.                  Pemenggalan kata yang mengandung dua huruf konsonan berurutan yang tidak mewakili satu fonem dilakukan diantara kedua huruf konsonan itu.
Misalnya:
Ap.ril                           cap.lok
jan.ji                            mam.bang
6.                   Pemenggalan kata yang di tengahnya terdapat digraf atau gabungan huruf konsonan yang mewakili fonem tunggal dilakukan dengan tetap mempertahankan kesatuan digraf itu.
Misalnya:                     
bu.nyi                          ikh.las
mu.ta.khir                    nya.nyi.an
7.                  Pemenggalan kata mengandung tiga atau empat huruf konsonan berurutan di tengahnya dilakukan diantara huruf konsonan pertama dan konsonan kedua.
Misalnya:
ben.trok                       in.fra
Perhatikan:
Bang.krut                    makh.luk
8.                  Pemenggalan kata yang mengandung bentuk trans dilakukan seperti dibawah ini.
·         Jika trans diikuti bentuk bebas, pemenggalannya dilakukan dengan memisahkan trans sebagai bentuk utuh dan bagian lainnya dipenggal kata dasar.
Misalnya:
trans.mig.ra.si        trans.vu.si
·         Jika trans diikuti oleh bentuk terikat, pemenggalan seluruh kata dilakukan dengan mengikuti pola pemenggalan kata dasar.
Misalnya:
tran.sen.den           tran.spi.ra.si
9.               Pemenggalan kata yang mengandung bentukl eks- dilakukan seperti di bawah ini.
·         Jika unsur eks- ada dalam kata yang mempunyai bentuk sepadan yang mengandung unsur in- atau im- pemenggalannya dilakukan antara eks dan unsur berikutnya.
Misalnya:
eks.tra                    (bandingkan dengan intra)
eks.por                   (bandingkan dengan impor)
eks.pli.sit               (bandingkan dengan implisit)
·         Bentuk lain yang mengandung unsur eks- dipenggal sebagai kata utuh. Pemenggalan eks dilakukan di antara k dan s.
Misalnya:
ek.ses                     ek.strem
ek.sis.ten.si            ek.so.dus
10.           Pemenggalan kata yang terdiri atas lebih dari satu unsur dan salah satu unsur itu dapat bergabung dengan unsur lain, dilakukan di antara unsur-unsurnya. Ketentuan ini sama dengan ketentuan 1.2 di atas.
  Misalnya:
  endoskop                   endo-skop                   en.do.skop
  teleskop                     tele-skop                      te.le.skop
  telegraf                      tele-graf                       te.le.graf
  
  Kecuali:
  en.dos.ko.pi               te.le.gra.fis                  at.mo.sferis
11.           Pemenggalan unsur serapan asing yang berakhir –isme, dan –isme itu didahului oleh vokal, dilakukan setelah huruf vokal.
Misalnya:
egoisme                      e.go.is.me
heroism                      he.ro.is.me

Pemenggalan unsur serapan asing yang berakhir –isme, dan –isme itu didahului oleh sebuah huruf konsonan, dilakukan sebelum huruf konsonan itu.
Misalnya:
absolutisme                ab.so.lu.tis.me
humanisme                 hu.ma.nis.me
12.           Pemenggalan unsur serapan asing yang berakhir –anda, -asi, -ida, -ika, -ikal, dan –tas dilakukan sebagai berikut.
Misalnya:
a)   propaganda     pro.pa.gan.da
legenda                le.gen.da
b)   dedikasi                       de.di.ka.si
interogasi             in.te.ro.ga.si
c)   klorida             klo.ri.da
oksida                  ok.si.da
d)  logika              lo.gi.ka
matematika          ma.te.ma.ti.ka
e)   artikel              ar.ti.kel
partikel                 par.ti.kel
f)    aktivitas                       ak.ti.vi.tas
fasilitas                fa.si.li.tas
13.           Pemenggalan unsur serapan asing yang berakhir –ak, -al, -anas, -at, -if, -ik, -is, -or, dan –ur dilakukan sebagai berikut.
a)   amoniak                       a.mo.ni.ak
kardiak                 kar.di.ak
b)   proposal                       pro.po.sal
nasional                na.si.o.nal
c)   ambulans                     am.bu.lans
konkordans          kon.kor.dans
d)  emirat              e.mi.rat
kandidat              kan.di.dat
e)   ekspansif                     ek.span.sif
relative                 re.la.tif
f)    balistik             ba.lis.tik
atomik                  a.to.mik
g)   ekstremis                     ek.stre.mis
jurnalis                 jur.na.lis
h)   aktor                ak.tor
donor                   do.nor
i)     kultur               kul.tur
14.           Pemenggalan unsur serapan asing yang berakhir –I, dan –iah dilakukan sebagai berikut.
Misalnya:
monarki                      mo.nar.ki
deputi                                    de.pu.ti

      II.                      Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring
A.     Huruf Kapital atau Huruf Besar
1.      Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk
Apa maksudnya?
2.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
Misalnya:
Adik bertanya,”Kapan kita pulang?”
Bapak menasehati,”Berhati-hatilah, Nak!”
3.      Huruf kapital di pakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Yang Mahakuasa
Tuhan akan menunjukkan jalan yang benar kepada hamba-Nya
4.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Mahaputra Yamin
Sultan Hasanudin

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang tidak diikuti nama orang.
Misalnya:
Dia baru saja diangkat menjadi sultan
Tahun ini ia pergi naik haji
5.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur  nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi atau nama tempat.
Misalnya:
Wakil Presiden Adam Malik
Sekretaris Jendral Departemen Pertanian
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang tidak diikuti nama orang atau nama tempat.
Misalnya:
Siapakah gubernur yang baru dilantik?
Kemarin Brigadir Jenderal Ahmad dilantik menjadi mayor jendral
6.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang.
Misalnya:
Dewi Sartika                     Wage Rudolf Supratman
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama orang yang digunakan sebagai nama jenis atau satuan ukuran.
Misalnya:
mesin  diesel                      10 volt
7.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bahasa Indonesia               suku sunda                  bahasa inggris

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku bangsa, dan bahasa yang dipakai sebagai bentuk dasar kata turunan.
Misalnya:
mengindonesiakan kata asing
keinggris-inggrisan
8.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
Perang Candu
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama peristiwa sejarah yang tidak dipakai sebagai nama.
Misalnya:
Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan bangsanya
9.      Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi
Misalnya:
Laut Jawa                         Asia Tenggara
Gunung Semeru                Danau Toba
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang tidak menjadi unsur nama diri.
Misalnya:
berlayar ke teluk                menyeberangi selat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama istilah geografi yang digunakan sebagai nama jenis.
Misalnya:
garam Inggris                    gula jawa
10.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama Negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi kecuali kata seperti dan.
Misalnya:
Republik Indonesia           Majelis Permusyawaratan Rakyat
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata yang bukan nama resmi Negara, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan serta nama dokumen resmi.
Misalnya:
beberapa badan hukum     kerjasama antara pemerintah dan rakyat
11.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan serta dokumen resmi.
Misalnya:
Perserikatan Bangsa-Bangsa
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
12.                       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk semua unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk, yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Bacalah buku Bahasa dan Sastra.
13.                       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan.
Misalnya:
Dr                                                doktor
S.E                                   sarjana ekonomi
Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang dipakai dalam penyapaan dan pengacuan.
Misalnya:
“Kapan Bapak berangkat?” Tanya Hartol
Mereka akan pergi ke rumah Pak Camat
14.                       Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan yang tidak dipakai dalam pengacuan atau penyapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
Semua kakak dan adik saya sudah berkeluarga
15.                       Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti Anda.
Misalnya:
Sudahkah Anda tahu?
Surat Anda telah kami terima.
B.     Huruf Miring
1.   Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan nama buku, majalah dan surat kabar yang dikutip dalam tulisan.
Misalnya:
Majalah Bahasa dan Kesustraan
Surat kabar Suara Pembaharuan
2.   Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata atau kelompok kata.
Misalnya:
Bab ini tidak membahas mengenai huruf kapital
Buatlah kalimat dengan berlepas tangan.
3.   Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing kecuali yang telah disesuaikan.
Misalnya:
Nama ilmiah buah Cabe Merah adalah Capsicum annum L.
Politik divide et impera pernah merajalela di negeri ini.


    III.         Penulisan Kata
A.  Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu kesatuan
Misalnya:                   
Ibu percaya bahwa engkau tahu.
B.   Kata Turunan
1.      Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya.
Misalnya:
bergetar, dikelola, penetapan, menengok, mempermainkan
2.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung mengikuti atau mendahuluinya.
Misalnya:
bertepuk tangan, garis bawahi, menganak sungai, sebarluaskan
3.      Jika bentuk dasar berupa gabungan kata mendapat awalan dan akhiran sekaligus, unsur gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
menggarisbawahi, menyebarluaskan, penghancurleburan
4.      Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
adipati, aerodinamika, antarkota,multilateral, narapidana, nonkolaborasi, pancasila, paripurna, poligami, dasawarsa, dwiwarna, swadaya, prasangka, pramuniaga, telepon.
       Catatan:
·         Jika bentuk terikat diikuti oleh kata yang huruf awalnya adalah huruf kapital di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-)
            Misalnya:
             non-Indonesia                  pan-Afrikanisme
·         Jika kata Maha sebagai unsur gabungan diikuti oleh kata esa dan kata yang bukan kata dasar, gabungan itu ditulis terpisah.
Misalnya:
Berdoalah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa
Berserahlah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih
C.  Bentuk Ulang
Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung.
Misalnya:
       anak-anak                         ramah-matah
       buku-buku                        sayur-mayur
       kuda-kuda                                    centang-perenang                   
D.  Gabungan Kata
1.      Gabungan kata yang lazim disebut majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar                          meja tulis
kambing hitam                  orang tua
2.      Gabungan kata termasuk istilah khusus yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian di antara unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
alat pandang-dengar        ibu-bapak kami
anak-istri mereka              mesin-hitung tangan
3.      Gabungan kata berikut ditulis serangkai.
Misalnya:
Adakalanya                       bilamana
Acapkali                            bumiputra
Bagaimana                                    daripada
E.      Kata Ganti -ku, kau-, -mu, dan –nya
Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
Kata ganti –ku, -mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil
Bukuku, bukumu dan bukunya tersimpan di perpustakaan
F.   Kata Depan di, ke dan dari
Kata depan di, ke dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya kecuali di dalam gabungan kata yang sudah lazim dianggap sebagai satu kata seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Baju itu terletak di dalam lemari.
Mereka ada di rumah.
G.  Kata si dan sang
Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya
Misalnya:
Harimau tertipu oleh sang kancil.
Surat itu dikirimkan kembali kepada si pengirim
H.  Partikel
1.      Partikel –lah, -kah, dan –tah ditulis serangkai dengan kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Bacalah berita di koran hari ini baik-baik.
Apakah gunanya bersedih hati?
2.      Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.
Misalnya:
Apa pun yang terjadi harus dihadapi.
Satu kali pun engkau belum pernah ke rumahku.
3.      Partikel per yang berarti ‘mulai’, demi dan tiap ditulis terpisah dari kata yang mendahului atau mengikutinya.
Misalnya:
Pegawai negeri mendapat kenaikan gaji per 1 april.
Mereka masuk ke dalam kelas satu per satu.
Harga kain itu Rp 2.000.000 per helai.
I.     Singkatan dan Akronim
1.      Singkatan ialah bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih.
a.                   Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan, atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
M.B.A.            = Master of Business Administration                       
A.M. Fatahillah
M.Sc .              = Master of Science                                       
S. Farm            = Sarjana Farmasi                                                       
b.                  Singkatan nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdiri atas huruf awal kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
DPR    = Dewan Perwakilan Rakyat
GBHN            = Garis-garis Besar Haluan Negara
PGRI   = Persatuan Guru Republik Indonesia
c.                   Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik.
Misalnya:
dll.       = dan lain-lain
dsb.     = dan sebagainya
dst.      = dan seterusnya
d.                  Lambang kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya:
Cu       = koprum
TNT     = trinitrotoluen
Cm      = sentimeter
2.      Akronim adalah singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlakukan sebagai kata.
Misalnya:
a.                   Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya:
TNI     = Tentara Nasional Indonesia
LAN    = Lembaga Administrasi Negara
b.                  Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungana huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri             = Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
Bappenas         = Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
c.                   Akronim yang bukan nama diri yang berupa gabungan huruf, suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata seluruhnya ditulis dengan huruf kecil.
Misalnya:
Pemilu             = Pemilihan Umum
Rapim              = Rapat Pimpinan
J.    Angka dan Lambang Bilangan
1.      Angka dipakai untuk menyatakan lambang bilangan atau nomor. Di dalam tulisan lazim di gunakan angka Arab atau angka Romawi.
Misalnya:
Angka Arab          : 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9
Angka Romawi           : I, II, III, IV, V, VI, VII, VIII, IX, X, L (50), C (100), D (500), V (5000), M (1.000.000).
2.      Angka digunakan untuk menyatakan ukuran panjang, berat, luas dan isi, satuan waktu, nilai uang dan kuantitas.
Misalnya:
0,5 kilometer, 5 kilogram, 4 meter persegi, 10 liter, 2.000 rupiah, 1 jam 20 menit.
3.      Angka lazim dipakai untuk melambangkan nomor jalan, rumah, apartemen atau kamar pada alamat
Misalnya:
Jalan Pangeran Seribu 1 No. 3
4.      Angka juga digunakan untuk menomori bagian karangan dan ayat kitab suci.
Misalnya:
Bab X, Pasar 5, halaman 252
5.      Penulisan lambang bilangan yang dengan huruf dilakukan sebagai berikut:
a.                   Bilangan Utuh
Empat belas                             = 14
Dua puluh dua                                    = 22
b.                  Bilangan Pecahan
Setengah                                 = ½
Tiga perempat                         = ¾
6.      Penulisan lambang bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara berikut:
Paku Buwono X
Di daerah tingkat II itu
7.                        Penulisan lambang bilangan yang mendapat akhiran –an mengikuti cara berikut:
Tahun 50-an, uang 5000-an.
8.                        Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan seperti dalam perincian dan pemaparan.
Misalnya:
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang setuju, 15 orang tidak setuju, dan 5 orang memberikan suara blanko.
9.                        Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dinyatakan dengan satu atau dua kata tidak terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
15 orang tewas dalam kecelakaan itu.
Dua ratus lima puluh orang tamu diundang Pak Darmo.
10.                    Angka yang menunjukkan bilangan utuh yang besar dapat dieja sebagian supaya lebih muda di baca.
Misalnya:
Penduduk Indonesia lebih dari 120 juta orang.
11.                    Bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks kecuali di dalam dokumen resmi seperti dalam akta dan kuitansi.
Misalnya:
Di lemari itu tersimpan 999 buku cerita seri terbaru.
12.                                                                                         Jika bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf, penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima uang sebesar Rp 999.75
(sembilan ratus sembilan puluh sembilan dan tujuh puluh lima perseratus rupiah).


    IV.         Penulisan Huruf Serapan
Dalam hal penulisan unsur serapan  dalam bahasa Indonesia, sebagian ahli bahasa Indonesia menganggap belum stabil dan konsisten. Dikatakan demikian karena pemakai bahasa Indonesia sering begitu saja menyerap unsur asing tanpa memperhatikan aturan, situasi, dan kondisi yang ada. Pemakai bahasa seenaknya menggunakan kata asing tanpa memproses sesuai dengan aturan yang telah diterapkan.
Penyerapan unsur asing dalam pemakaian bahasa indonesia dibenarkan, sepanjang : (a) konsep yang terdapat dalam unsur asing itu tidak ada dalam bahasa Indonesia, dan (b) unsur asing itu merupakan istilah teknis sehingga tidak ada yang layak mewakili dalam bahasa Indonesia, akhirnya dibenarkan, diterima, atau dipakai dalam bahasa Indonesia. sebaliknya apabila dalam bahasa Indonesia sudah ada unsur yang mewakili konsep tersebut, maka penyerapan unsur asing itu tidak perlu diterima.
Menerima unsur asing dalam perbendaharaan bahasa Indonesia  bukan berarti bahasa Indonesia ketinggalan atau miskin kosakata. Penyerapan unsur serapan asing merupakan hal yang biasa, dianggap sebagai suatu variasi dalam penggunaan bahasa Indonesia. Hal itu terjadi karena setiap bahasa mendukung kebudayaan pemakainya. Sedangkan kebudayaan setiap penutur bahasa berbeda-beda anatar satu dengan yang lain. Maka dalam hal ini dapat terjadi saling mempengaruhi yang biasa disebut akulturasi. Sebagai contoh dalam masyarakat penutur bahasa Indonesia tidak mengenal konsep “radio” dan “televisi”, maka diseraplah dari bahasa asing (Inggris). Begitu pula sebaliknya, di Inggris tidak mengenal adanya konsep “bambu” dan “sarung”, maka mereka menyerap bahasa Indonesia  itu dalam bahasa Inggris.
Berdasarkan taraf integritasnya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dikelompokkan dua bagian, yaitu :
1.         Secara adopsi, yaitu apabila unsur asing itu diserap sepenuhnya secara utuh, baik tulisan maupun ucapan, tidak mengalami perubahan. Contoh yang tergolong secara adopsi, yaitu : editor, civitas academica, de facto, bridge.
2.         Secara adaptasi, yaitu apabila unsur asing itu sudah disesuaikan ke dlaam kaidah bahasa Indonesia, baik pengucapannya maupun penulisannya. Salah satu contoh yang tergolong secara adaptasi, yaitu : ekspor, material, sistem, atlet, manajemen, koordinasi, fungsi.
           V.                                                                                                                    Pemakaian Tanda Baca
A.                                                                                           Tanda Titik (.)
1.                                                                                             Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan seruan.
Misalnya:
Ayahku tinggal di Solo.
Hari ini tanggal 6 Desember 2012.
2.                                                                                             Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagian, ikhtiar, atau daftar.
a. 1. Patokan Umum
        1.1 Isi karangan
        1.2 Ilustrasi
              1.2.1 Gambar Tangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik           
3.                                                                                             Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
Misalnya:
Pukul 1.35.20 (Pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)
4.                                                                                             Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)
0.0.30 jam (30 detik)
5.                                                                                             Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Waltervreden: Balai Pustaka.
6.                                                                                             a. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya.
Misalnya:
Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.232 jiwa.
b. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau kelipatannya yang tidak menimbulkan jumlah.
Misalnya:
Ia lahir pada tahun 1994 di Gunungsitoli.
Nomor gironya 5348765.
7.                                                                                             Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, table dan sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Adam Malik
8.                                                                                             Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat (2) nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan Diponegoro 82
6 Desember 2012

B.                                                                                           Tanda Koma (,)
1.                                                                                             Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
2.                                                                                             Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi atau melainkan.
Misalnya:
Saya datang, tetapi hari ini hujan.
Pendik bukan anak saya, melainkan anak Pak Soza.
3.                                                                                             a. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya.
Misalnya:
Kalau hari ini hujan, saya tidak akan dating.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.
b. Tanda koma tidak di pakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimat.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari ini hujan.
Dia tahu bahwa soal itu penting.
4.                                                                                             Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
Misalnya:
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
Jadi, soalnya tidak semudah itu.
5.                                                                                             Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat.
Misalnya:
O, begitu!                                 Wah, bukan main-main!
6.                                                                                             Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
Misalnya:
Kata Ibu,”Saya gembira sekali”
7.                                                                                             Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat. (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.
8.                                                                                             Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tata Bahasa Baru Indonesia, Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.
9.                                                                                             Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki.
Misalnya:
W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm.4.
10.                                                                                         Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga.
Misalnya:
B. Ratulangi, S.E.
11.                                                                                         Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka.
Misalnya:
12,5 m                                      Rp12,50
12.                                                                                         Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi.
Misalnya:
Guru saya, Pak Ahmad, pintar sekali

Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit oleh tanda koma.
Misalnya:
Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia.
13.                                                                                         Tanda koma dapat dipakai untuk menghindari salah baca di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh.
Bandingkan dengan:
Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa.
14.                                                                                         Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan itu berakhir dengan tanda Tanya atau tanda seru.
Misalnya:
“Di mana saudara tinggal?” tanya Karim.


C.                                                                                           Tanda Titik Koma (;)
1.                                                                                             Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga.
2.                                                                                             Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghafal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengar siaran: “Pilihan Pendengar”

D.                                                                                           Tanda Titik Dua (:)
1.                                                                                             a. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Kita sekarang memerlukan perabot rumah tangga: kursi, meja, dan lemari.
b. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap atau mengakhiri pernyataan.
Misalnya:
Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari.
2.                                                                                             Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.
Misalnya:
 Ketua         : Ahmad Wijaya
 Sekretaris   : S. Handayani
 Bendahara  : B. Hartawan
3.                                                                                             Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu              : (meletakkan beberapa kopor) “bawa kopor ini, Mir!”
Amir           : “Baik, Bu.” (mengangkat kopor dan masuk)
Ibu              : “Jangan lupa. Letakkan baik-baik!” (duduk di kursi besar)
4.                                 Tanda titik dua dipakai (i) diantara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan.
Misalnya:
Tempo, (1971), 34:7
Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah studi, sudah terbit.

E.                                   Tanda Hubung (-)
1.                                 Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya:
Di samping cara-cara lama itu ada juga cara yang baru

2.                                 Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di de-pan-nya pada pergantian baris.
Misalnya:
Senjata ini merupakan alat pertahanan yang canggih
3.                                 Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
Misalnya:
Anak-anak             berulang-ulang
4.                                 Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
Misalnya:
p-a-n-i-t-i-a            7-5-1975
5.                                 Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagiankata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata.
Misalnya:
ber-evolusi
6.                                 Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan –an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap.
Misalnya:
se-Indonesia                      se-Jawa Barat
7.                                 Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa lain.
Misalnya:
di-smash               pen-tacle-an

F.                                   Tanda Pisah (-)
1.                                 Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat.
Misalnya:
Kemerdekaan bangsa itu-saya yakin akan tercapai-diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri.
2.                                 Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas.
Misalnya:
Rangkaian temuan ini-evolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan otonom-telah merubah konsepsi kita tentang alam semesta.
3.                                 Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tunggal dengan arti ‘sampai ke’ atau ‘sampai dengan’.
Misalnya:
1910-1945                         tanggal 5-10 april 1970

G.                                  Tanda Elipsis (…)
1.                                 Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.
Misalnya:
Kalau begitu … ya, marilah kita bergerak
2.                                 Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan.
Misalnya:
Sebab-sebab kemerosotan … akan diteliti lebih lanjut.

H.                                  Tanda Tanya (?)
1.                                 Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya.
Misalnya:
Kapan ia berangkat?
2.                                 Tanda tanya dipakai dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat di buktikan kebenarannya.
Misalnya:
Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I.                                     Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat.
Misalnya:
Bersihkan kamar mandi itu sekarang juga!

J.                                    Tanda Kurung ((…))
1.                                 Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
Misalnya:
Bagian perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.
2.                                 Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
Keterangan itu (lihat tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
3.                                 Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan.
Misalnya:
Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.
4.                                 Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan.
Misalnya:
Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, (c) modal.

K.                                  Tanda Kurung Siku ([…])
1.                                 Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memeang terdapat di dalam naskah asli.
Misalnya:
Sang sapurba men [d] engar bunyi gemerisik.
2.                                 Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
Misalnya:
Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II) [lihat halaman 35-38] perlu dibentangkan di sini.

L.                                   Tanda Petik (“…”)
1.                                 Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.
Misalnya:
“saya belum siap,” kata Mira,” tunggu sebentar!”
2.                                 Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Sajak “Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
3.                                 Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara “coba dan ralat” saja.
4.                                 Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
Misalnya:
Kata Tono, “saya juga minta satu”.
5.                                 Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.
Misalnya:
Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan  “Si Hitam”

M.                                 Tanda Petik Tunggal (‘…’)
1.                                 Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun dalam petikan lain.
Misalnya:
Tanya Basri, “Kau dengar bunyi ‘kring-kring’ tadi?
2.                                 Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing.
Misalnya:
Feed back ‘balikan’

N.                                  Tanda Garis Miring (/)
1.                                 Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.
Misalnya:
No.7/PK/1973
2.                                 Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau dan tiap.
Misalnya:
Dikirimkan lewat darat/laut ‘dikirimkan lewat darat atau lewat laut’

O.                                  Tanda Penyingkat atau Apostrof (‘)
Tanda penyingkatan menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun.
Misalnya:
Ali ‘kan kusurati. (‘kan=akan)

  BAHASA BAKU DAN TIDAK BAKU
Bahasa baku adalah ragam bahasa yang cara pengucapan dan penulisannya sesuai dengan kaidah-kaidah standar. Kaidah standar dapat berupa pedoman ejaan (EYD), tata bahasa baku, dan kamus umum. Sebaliknya, bahasa tidak baku adalah ragam bahasa yang cara pengucapan dan penulisannya tidak memenuhi kaidah-kaidah standar tersebut.
Penggunaan ragam bahasa baku dan tidak baku berkaitan dengan situasi dan kondisi pemakaiannya. Ragam bahasa baku biasanya digunakan dalam situasi resmi,seperti pada acara seminar, pidato, temu karya ilmiah, dan lain-lain. Adapun ragam bahasa tidak baku umumnya digunakan dalam komunikasi sehari-hari yang tidak bersifat resmi.

              I.     FUNGSI BAHASA BAKU
       Secara umum, fungsi bahasa baku adalah sebagai berikut:
1.      Pemersatu, pemakaian bahasa baku dapat mempersatukan sekelompok orang menjadi satu kesatuan masyarakat bahasa.
2.      Pemberi Kekhasan, pemakaian bahasa baku dapat menjadi pembeda dengan masyarakat pemakai bahasa lainnya.
3.      Pembawa kewibawaan, pemakaian bahasa baku dapat memperlihatkan kewibawaan pemakainya.
4.      Kerangka acuan, bahasa baku menjadi tolak ukur bagi benar atau tidaknya pemakaian bahasa seseorang atau sekelompok orang.

                II. CIRI-CIRI BAHASA BAKU

Bahasa baku memiliki cirri-ciri berikut:
1.    Tidak dipengaruhi bahasa daerah.
Baku                                 Tidak baku
Saya                                 gue
Ayah                                bokap
2.    Tidak dipengaruhi bahasa asing.
Baku                                 Tidak baku
Banyak guru                     banyak guru-guru
3.    Bukan merupakan ragam bahasa percakapan.
Baku                                 Tidak baku
Bagaimana                       gimana
4.    Pemakaian imbuhan secara eksplisit.
Baku                                 Tidak baku
Ia mendengarkan radio    ia dengarkan radio
5.    Pemakaian yang sesuai dengan konteks kalimat.
Baku                                 Tidak baku
Sehubungan dengan         sehubungan
6.    Tidak mengandung makna ganda, tidak rancu.
Baku                                 Tidak baku
Menghemat waktu           mempersingkat waktu
7.    Tidak mengandung arti pleonasme.
Baku                                 Tidak baku
Para juri                            para juri-juri
8.    Tidak mengandung hiperkorek.
Baku                                 Tidak baku
Sabtu                                saptu

        III.Penggunaan Kata-Kata Baku
Masuknya kata-kata yang digunakan adalah kata-kata umum yang sudah lazim digunakan atau yang frekuensi penggunaanya cukup tinggi. Kata-kata yang belum lazim atau masih bersifat kedaerahan sebaiknya tidak digunakan, kecuali dengan pertimbangan- pertimbangan khusus. Misalnya:
Bahasa Baku Bahasa Tidak Baku
- cantik sekali – cantik banget
- lurus saja – lempeng saja



        IV.     Penggunaan Ejaan Resmi Dalam Ragam Tulisan
Ejaan yang kini berlaku dalam bahasa Indonesia adalah ejaan yang disebut ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan (singkat EYD). EYD mengatur mulai dari penggunaan huruf, penulisan kata, penulisan partikel, penulisan angka penulisan unsur serapan, sampai pada penggunaan tanda baca. Misalnya:
Bahasa Baku               Bahasa Tidak Baku
- melipatgandakan       – melipat gandakan
- pergi ke pasar            – pergi kepasar
      V.          Penggunaan Lafal Baku Dalam Ragam Lisan
Hingga saat ini lafal yang benar atau baku dalam bahasa Indonesia belum pernah ditetapkan. Tetapi ada pendapat umum bahwa lafal baku dalam bahasa Indonesia adalah lafal yang bebas dari ciri-ciri lafal dialek setempat atau lafl daerah.
Misalnya:
Bahasa Baku                    Bahasa Tidak Baku
- atap                                – atep
- menggunakan                 – menggaken
- kalaw                             – kalo,kalo’
Penggunaan Kalimat Secara Efektif
Maksudnya, kalimat-kalimat yang digunakan dapat dengan tepat menyampaikan pesan dengan pembicaraan atau tulisan kepada pendengar atau pembaca, persis seperti yang di maksud pembicara atau penulis.
Keefektifan kalimat ini dapat dicapai antara lain dengan:
1.                  Susunan kalimat menurut aturan tata bahasan yang benar,
misalnya:
Bahasa Baku
- Pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
- Tindakan-tindakan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan
   keluarganya merasa tidak aman.
Bahasa Tidak Baku
- Di pulau Buton banyak menghasilkan aspal.
- Tindakan-tindakan itu menyebabkan penduduk merasa tidak aman dan
   keluarganya.
2.                  Adanya kesatuan pikiran dan hubungan yang logis didalam kalimat.
 Misalnya:
Bahasa Baku
- Dia datang ketika kami sedang makan.
- Loket belum dibuka walaupun hari sudah siang.
 Bahasa Tidak Baku
- Ketika kami sedang makan dia datang.
- Loket belum dibuka dan hari tidak hujan.
3.                  Penggunaan kata secara tepat dan efesien.
Misalnya:
Bahasa Baku
- Korban kecelakaan lalu lintas bulan ini bertambah.
- Panen yang gagal memaksa kita mengimpor beras.
Bahasa Tidak Baku
- Korban kecelakaan bulan ini naik.
- Panen gagal memungkinkan kita mengimpor beras.
4.                   Penggunaan variasi kalimat atau pemberian tekanan pada unsur kalimat yang
ingin ditonjolkan.
Misalnya:
Kalimat Biasa
- Dia pergi dengan diam-diam.
- Dengan pisau dikupasnya mangga itu.
Kalimat Bertekanan
- Pergilah dia dengan diam-diam.
- Dengan pisaulah dikupasnya mangga itu.
BAB III
PENUTUP
A.  KESIMPULAN
1.              Ejaan (Ejaan Yang Disempurnakan) adalah tata bahasa dalam bahasa Indonesia yang mengatur penggunaan bahasa indonesia dalam tulisan, mulai dari pemakaian dan penulisan huruf kapital dan huruf miring, serta penulisan huruf serapan.
2.              Ruang lingkup EYD mencakup lima aspek yaitu :
pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, penulisan unsur, danpemakaian tanda baca.
3.              Penulisan tanda baca perlu diperhatikan dalam penulisan karya tulis atau karya ilmiah
4.              Masing-masing tanda baca memiliki aturan dan tata letak penggunaannya, sehingga kita harus cermat dalam menggunakan tanda baca dan menempatkan tanda baca pada aturan yang telah ditetapkan
5.              Penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) sangat dibutuhkan dalam penulisan karya tulis ilmiah agar sebuah karya tulis ilmiah tersebut tersususn dengan baik dan mudah dipahami
6.              Penggunaan tanda baca perlu dipahami dan dipelajari lebih detail agar penggunaan tanda baca pada karya ilmiah yang kita buat menjadi benar dan mudah dipahami oleh orang-orang yang akan membacanya


B.   SARAN
Sudah selayaknya kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia dapat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar khususnya dalam bahasa tulis. Dengan adanya penjabaran tentang pemakaian Ejaan Yang Disempurnakan diharapkan para pembaca dapat memahami dan menerapkan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan dalam pembuatan karya tulis. Dan semoga penjabaran ini dapat bermanfaat bagi kita semua
    


DAFTAR PUSTAKA

Waridah, Ernawati. 2008. EYD dan Seputar Kebahasa-Indonesiaan. Jakarta Selatan : Kawan Pusataka
2008.  Ejaan Yang Disempurnakan. Jakarta : Bumi Aksara
2009. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Bandung : Yrama Widya





                                          


Tidak ada komentar:

Posting Komentar